Sejumlah
siswa mengeluhkan gejala sakit perut, pusing, dan diare setelah mengonsumsi
makanan tersebut.
Menanggapi
hal ini, Anggota DPRD Provinsi Lampung, Andika Wibawa SR, menyampaikan
keprihatinannya. Ia menilai niat baik Presiden Prabowo melalui program MBG
tidak boleh tercoreng hanya karena persoalan kebersihan yang semestinya bisa
dicegah.
“Kita
prihatin, karena niat Pak Prabowo ini baik. Tapi kita belum bisa memastikan
penyebabnya. Harus diteliti lebih lanjut apakah dari makanan atau faktor lain.
Yang jelas, kebersihan dapur dan petugas MBG harus sangat diperhatikan. Masalah
perut biasanya disebabkan bakteri, bisa dari makanan maupun air yang
digunakan,” ujar Andika, Minggu (31/8/2025).
Ia
menekankan bahwa bahan makanan, mulai dari sayuran hingga olahan lain, harus
dicek ketat terkait masa kedaluwarsa, kebersihan pencucian, hingga proses
pengolahannya.
Selain itu,
menurutnya peran ahli gizi di dapur MBG tidak boleh sebatas menghitung
kandungan gizi, tetapi juga memastikan keamanan makanan sebelum disalurkan.
“Ahli
gizi harus mencicipi dulu sebelum makanan diberikan ke anak-anak. Jangan sampai
makanan yang belum dicek langsung dikirim ke sekolah,” tegas Anggota DPRD Dapil
Bandar Lampung ini.
Andika juga
meminta agar dapur MBG memiliki prosedur tetap (protap) yang jelas, dengan
pengawasan ketat dari ahli gizi serta penerapan standar kebersihan yang
maksimal.
“Ahli
gizi di MBG itu harus ada dan benar-benar berfungsi. Protap harus jelas,
kebersihan dapur dijaga, dan semua faktor diperhatikan agar kasus seperti ini
tidak terulang lagi,” tambahnya.
Lebih jauh,
ia mengimbau agar proses pembuatan makanan dilakukan lebih higienis sehingga
program MBG berjalan lancar sesuai tujuan. Ia juga menyoroti pentingnya
pemilihan bahan baku, termasuk tekstur nasi agar tidak terlalu keras sehingga
mudah dikonsumsi anak-anak.