Acara yang
diisi dengan doa bersama, yasin, tahlil, dan diskusi reflektif itu menghadirkan
beragam kesan dari para tokoh yang mengenal dekat sosok Imam Aziz.
Anggota DPRD
Provinsi Lampung, Fatikhatul Khoiriyah, S.Hi., M.H., menegaskan kegelisahan
Imam Aziz bukanlah kelemahan, melainkan tanda kepekaan sosial dan keberpihakan
pada masyarakat kecil.
“Mas Imam adalah sosok yang selalu gelisah melihat ketidakadilan. Kegelisahan
itu tanda kepekaan dan keberpihakan kepada mereka yang lemah. Beliau humble,
dengan keilmuan luas, baik di bidang keagamaan maupun sosial. Itulah yang patut
kita teladani,” ujar Khoir.
Ia
menambahkan, pemikiran Imam Aziz menjadi teladan penting bagi generasi muda.
“Banyak tokoh yang bisa menjadi gambaran ideal bagi kita, salah satunya Mas
Imam Aziz. Dari beliau kita belajar bagaimana membangun nilai dan arah untuk
masa depan,” kata Khoir.
Senada,
Wakil Rektor II UIN Raden Intan Lampung, Prof. Dr. Safari Daud, mengenang Imam
Aziz sebagai sosok visioner. “Berpikir besar dan tampilan sederhana adalah dua
hal yang melekat pada Mas Imam Aziz. Semakin sadar keagamaan, semakin tinggi
kemanusiaan. Itulah perkawinan agama dengan ilmu sosial,” ujarnya.
Tokoh
Nahdlatul Ulama Lampung, H. Khaidir Bujung, menyoroti kesederhanaan Imam Aziz.
“Kiai Imam selalu tampil sederhana, baik dalam keseharian maupun dalam memimpin
gerakan. Kesederhanaan itulah yang membuatnya begitu dekat dengan banyak
kalangan,” ungkapnya.
Sementara
itu, Chepry Chairuman Hutabarat, Founder KLASIKA, mengaitkan pemikiran Imam
Aziz dengan filsafat Plato dan gagasan Jürgen Habermas. Menurutnya, Imam Aziz
selalu mengedepankan akal sehat, keberanian, dan kesederhanaan dalam gerak
kemanusiaannya, sekaligus menekankan bahwa pengetahuan harus bersifat
emansipatoris dan membebaskan.