Daging kurban yang telah disembelih kemudian dibagikan
secara langsung kepada masyarakat sekitar, para tetangga, konstituen, tim
pendukung, serta warga yang membutuhkan. Tidak ada sekat dalam distribusi;
semua dibagi merata dengan asas keadilan dan keberkahan.
Fauzi Heri menjelaskan bahwa makna berkurban bukan semata
soal ritual, tapi tentang ketulusan hati dan kepatuhan kepada Allah SWT. Ia
menyebut, semangat berkurban harus mengakar dalam jiwa setiap Muslim, terlebih
bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki.
“Kami meneladani Nabi Ibrahim AS, yang dengan ikhlas dan
penuh ketaatan bersedia mengorbankan sesuatu yang sangat dicintainya demi ridha
Allah. Dalam konteks saat ini, makna itu kami wujudkan melalui berbagi kepada
masyarakat,” ujar Fauzi Heri saat ditemui usai prosesi penyembelihan hewan
kurban, di Sukarame, Jumat (6/6).
Menurutnya, pengorbanan sejati tidak hanya berbentuk materi,
tetapi juga waktu, tenaga, dan perhatian kepada masyarakat. Ia menegaskan,
Islam yang dijalankan secara kafah (menyeluruh) menuntut umatnya untuk tidak
hanya memperhatikan ibadah individual, tetapi juga kepedulian sosial dan
keadilan ekonomi.
“Berbagi adalah bagian dari tanggung jawab moral dan
spiritual kita, terutama sebagai wakil rakyat. Kami ingin memastikan bahwa
keberkahan Iduladha ini bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat di sekitar
kita,” tambahnya.Lebih lanjut, Fauzi Heri menekankan pentingnya menjadikan
momen Iduladha sebagai refleksi sosial dan spiritual. Menurutnya, berkurban
bukan hanya kewajiban agama, tapi juga panggilan jiwa untuk membuktikan cinta
kepada sesama.
“Ketika banyak saudara kita masih berada dalam keterbatasan,
maka bagi yang mampu, berkurban bukan lagi pilihan, tapi sebuah keharusan,”
tuturnya.Fauzi Heri berharap dapat terus menjadi jembatan antara aspirasi
rakyat dan kebijakan publik. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk
memperkuat solidaritas sosial dan menjadikan Iduladha sebagai momentum untuk
saling berbagi dan mempererat ukhuwah Islamiyah.