Kunjungan ini dilakukan pada Selasa (3/6/2025) sebagai
bentuk dukungan moril dan ungkapan duka cita dari Partai Gerindra kepada
keluarga korban. Pratama diketahui merupakan anak laki-laki satu-satunya dan
anak pertama dalam keluarga.
> “Kami dari Partai Gerindra menyampaikan turut berduka
cita sedalam-dalamnya. Kami berharap keluarga diberikan ketabahan dan kekuatan
dalam menghadapi musibah ini,” ujar Andika Wibawa.
Lebih lanjut, ia menyampaikan harapan agar kasus ini segera
mendapatkan kejelasan hukum melalui proses yang transparan dan adil.
> “Permasalahan ini harus cepat terang benderang. Jika
memang ada pihak yang bersalah, kita serahkan sepenuhnya kepada aparat penegak
hukum. Ini bukan sekadar persoalan hukum, tapi juga soal rasa kemanusiaan,”
lanjutnya.
Andika juga menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh
terhadap penyelenggaraan kegiatan Diksar, ospek, maupun bentuk perploncoan
lainnya di lingkungan pendidikan, yang dinilai rawan menimbulkan kerugian,
bahkan korban jiwa.
> “Anak laki-laki semata wayang, satu-satunya, tiba-tiba
meninggal. Terlepas dari siapa benar dan salah, kita tidak boleh menutup mata.
Kami mendengar langsung harapan dari ibu korban agar kejadian ini tidak menimpa
orang tua lain di masa depan,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa meski kegiatan seperti ospek kerap
dianggap sebagai bagian dari pembentukan karakter dan pengenalan kampus, namun
tidak boleh ada tindakan yang berisiko atau merugikan peserta.
> “Kalau kegiatan seperti ini dianggap penting, pastikan
tidak ada tindakan yang melampaui batas. Kalau tidak perlu, lebih baik
ditiadakan. Dari TK saja sekarang sudah muncul kasus bullying. Maka pengawasan
guru, dosen, dan penyelenggara kegiatan harus ketat. Jangan sampai ada korban
berikutnya,” tegas Andika.
Ia berharap proses hukum berjalan lancar dan kasus ini
segera tuntas, sehingga semua pihak, terutama keluarga korban, dapat memperoleh
keadilan dan ketenangan.